Premium WordPress Themes

Sabtu, 20 Juli 2013

Suara Hati Berbicara*

Di waktu itu, sebuah bencana alam terjadi. Dataran rendah di pingiran pelabuhan Nabire. Banyak orang berteriak untuk meminta pertumpangan tangan dari para penolong. Di kala itu ada seseorang berinisial ALAY, beterbangan di udara dan melihat setiap jeritan dan tangisan orang-orangnya.

Sebuah Kapal besar bersandar dan berdatanglah orang-orang ini di dalam kapal yang berukuran besar itu. Kapal ini sangat besar dan bersedia untuk menampung setiap orang-orang dari setiap suku di pulau Papua ini yang jumlahnya tak kunjung habis. Kapal ini berwarnah putih dan selalu berlayar di dalam ombak-ombak yang sangat besar.
Berjalanlah si ALAY ini dengan sang kekasihnya di dalam kapal ini. Sunguh, di setiap sudut kapal ini terdapat suku-suku Papua, dan sesampai di ujung kapal ini, terdapatlah suku Mee. Terdengarlah sebuah suara yang tidak dikenal dari mana datangnya, bahwa ini adalah sukumu, mereka membutuhkanmu.
Berjalanlah si ALAY lagi ke bagian luar kapal itu dan terlihatlah ombak-ombak yang selalu melawan arah ke mana kapal ini berlayar. Banyak perahu boat kecil yang biasanya disediakan oleh si kapten kapal ini sebagai cadangan jika malapetaka datang untuk menghadapi kapal ini.
Namun sayang, semua boats kecil sudah terpakai habis di waktu silam.
Ombak-ombak jahat telah memakan habis jiwa-jiwa pada setiap boats itu. "Tiada tanda-tanda harapan bahwa boats itu dapat kembali dan menjemput para pemohon keselamatan. Hilang tanpa jejak dan tujuan, itulah misi si ombak jahat itu" tutur ALAY dalam benaknya. Dari semuaboats ini, hanya tersedia satu boat, dan pemilkinya belum diketahui oleh si ALAY.
Cerita berlanjut, si ALAY ini menemui sahabat-sahabat semasa SMP-nya. Katakan jumlah mereka sangat banyak, namun hanya empat dari semuanya akan di ebut seperti si putriAB, dan C.
Masing-masing membawa ciri-ciri atau karakter khusus yang dapat diperagakan dengan tolak pikir mereka masing-masing. Satu dari sahabat-sahabatnya ini adalah si putri. Ia menyukai si ALAY dan memegangnya dengan wibawa seakan-akan mereka telah berkeluarga.
Si putri bertindak dengan kegegasannya sendiri  untuk memeluk si ALAY dan menciumnya. Setiap selera bergaya seksual oleh si putri ini di peragakan kepada si ALAY di depan si A, B dan C. Suara hati si ALAY tidak menerima tindakan si putri ini.
Inilah tangapan-tangapan si A, B dan C terhadap ekspresi si putri kepada si ALAY. Si A berpikir bahwa tindakan si putri ini bersifat biasa atau wajar, dan si B berpikir, hal ini sangat immoral. Trus si C berpikir, hal ini membingungkan dan bersifat teka-teki atau (tidak) bisa di jawab.  Dan yang paling anehnya lagi, pekerjaan si putri ini bersifat sesaat atau berjiwa penjilat. Katakan "aku bisa menjilat darahmu sampai engkau menemui keajalanmu". 
Dengan perilaku si putri ini, kerja sama si A, B, dan C akhirnya di pertanyakan oleh kaum-kaum pemilik pulau itu. Pekerjaan mereka demi menyelesaikan persoalan bencana alam di pulau mereka itu masih belum bisa terselesaikan. "Kapan masalah bencana alam ini bisa di selesaikan?" pikir suku-suku pemilik pulau Papua.
Kesimpulan dari ini, si ALAY mendapat sebuah pemahaman yang baru mengenai si putri, si A, B, dan C. Pemahaman ini berawal dari bencana alam yang melanda pulau ini dan telah sering kali terjadi sejak puluhan tahun silam, katakan sejak awal tahun 1960s.
Setiap kali kapal ini berlayar, pasti saja ada urgent alarm dari pelabuhan Nabire yang mana sering didengar oleh kapal ini. Karakter dari si putri yang hampir membutakan mata hati si ALAY, si A, B, dan C yang semuanya kelihatan bersifat co-operatif ternyata memiliki tujuan yang bertolak belakang.
Selanjutnya, indikasi-indikasi positif yang bisa diberi kepada keempat figure ini semakin melemah. Hanya kepada setiap suku dari pulau inilah yang bisa dipercayai oleh si ALAY. Si ALAY juga menganggap bahwa tragedi bencana alam di pulau ini benar-benar sangat memprihatinkan, namun masalahnya dianggap biasa-biasa saja oleh mereka (si putri, si A, B, dan C).
Lain kalimat berbunyi, jika si putri menganggap masalah bencana alam ini biasa-biasa saja, bagaimana dengan tangapan si A terhadap bencana ini? Apakah ia akan beranggapan sama dengan si putri? Ataukah tidak? Ini semua mungkin masih bisa dipertanyakan oleh setiap suku pemilik pulau ini. Hal yang sama pula mungkin bisa diutarakan oleh kaum umum kepada si C.
Di sinilah ALAY berenung dan bertanya "Keempat figure ini adalah penduduk asli pulau ini. Saya bingung apa itu arti atau simbol keempat figur-figur ini dalam menanggani masalah bencana alam ini. Kekasihku, dapatkah anda jelaskan ini semuanya kepadaku?" kata ALAY kepada kekasihnya.
"Banyak orang yang telah dan sedang bekerja untuk menanggani dan menyelesaikan masalah ini, namun penghadang selalu berdatangan. Siapakah penghadang-penghadang itu? Kapankah masalah ini akan di selesaikan?"
Inilah pertanyaan batin si ALAY dalam hatinya selagi menunggu jawaban balik sang kekasihnya terhadap penjelasan lebih lanjut tentang keempat figur-figur di atas. Kekasihnya masih belum bisa memberi jawaban yang pasti, namun siALAY yakin dan percaya bahwa masalah ini akan terselesaikan di masa depan dalam waktu pendek dengan segera.    
Kapal telah meninggalkan pelabuhan Nabire. Si ALAY membiarkan si putri dengan sahabat-sahabatnya untuk melanjutkan percakapan mereka di dalam kapal yang sedang berlayar itu. Sekembalinya si ALAY kepada gengaman tangan sang kekasihnya, ia ditarik oleh sang kekasihnya menuju sebuah boat.
Kata sang kekasih kepadanya "boat ini adalah milikmu". Si ALAY pun merasa senang dan berbuah tangis, meluncurkan perasaan bangganya kepada sang kekasihnya.
Si ALAY digengami oleh sang kekasihnya lagi dan berpindahlah mereka dari kapal itu ke boat-nya. Boat ini bertali aluminium dan berjiwa emas. Serasa gembira dan senang bermukim di atas boat ini. Setiap ombak besar menghantamnya, ia selalu menang dan gembira. Boatnya ber-anti tengelam.
Sejenak berteduh, muncullah sebuah keajaiban di benak si ALAY bahwa kapal yang digunakan para korban bencana alam di Nabire, si putri, si A, B, dan C bersama setiap suku di pulau Papua itu belum diketahui siapa pengemudinya. Kapal ini tidak memunyai tujuan yang jelas. Tugasnya hanya berlayar, berlayar, dan berlayar di atas deru ombak-ombak yang mematikan itu.
Lautan ini sangat mengerihkan, dan mematikan bagi mereka yang mencoba keluar dari kapal itu. Kedatangan pertolongan bagi para korban hanya bersandar pada setiap  urgent alarms yang datang dari pulau Papua.
Trus, kalau ada korban diatas kapal itu, tidak pernah ada respond dari petolong-petolong kapal yang bisa di handalkan. Di sisi lain, setiap suku dari pulau ini juga sering merasa senang berteduh di dalam kapal ini. Seakan mereka dijaga dan dipelihara dengan selayaknya, walaupun hati nurani mereka merasa dan berkata tidak.
Masih banyak hal yang bisa diungkapkan mengenai kapal ini, namun hal yang paling tertarik untuk di pelajari dari kapal ini adalah si kapal ini memiliki fondasi dasar di dalam dasar laut ini. Dan sepertinya, lantai di mana si ALAY berada, ketika bercakap-cakap dengan si putri dan kawan-kawan, merupakan salah satu deck yang belum di mukimi air laut.
Setiap deck kapal lainya sudah berada di dalam laut, dan air laut berjalan mulus seakan-akan tidak ada penghalang. Dan anehnya lagi, banyak tengkorak-tengkorak manusia di temukan di tepian kapal itu. Suara manusia dari decks yang berada di dalam laut masih bisa didengar oleh setiap suku pulau yang berada di permukaan laut diatas kapal itu.
Kejadian ini sempat terpikirkan oleh si ALAY ketika ia dan kekasihnya meninggalkan kapal yang berlayar itu di atas lautan pasifik bagian utara pelabuhan Jayapura.    
Singkat kalimat, hal ajaib pun terjadi. Si ALAY merasa heran. Setiap anggota keluarganya berada di atas kapal itu dengan berpakaian kilat. Warnanya tidak bisa di diskripsikan. Mereka pun bersorak-sorai hingga tibalah mereka di danau Paniai. Banyak orang menjalah ikan, dan ada pula yang menjual hasil kebunnya. Ini seakan-akan membawa dan mengingatkan si ALAY dan keluarganya pada waktu silam di tahun 1950s hingga pada akhir-akhir tahun 1960s.
Selangkah maju, si Alay dan keluarganya bergegas untuk melangkah keluar dari boat-nya itu, bertepi di ujung tombak kali enagone. Ribuan harapan bermunculan di saat itu bahwa pembebasan itu selalu ada, dan tinggal tunggu waktu saja. Setelah sejenak berpikir demikian, keanehan kecil pun terjadi bahwa perubahan sedang terjadi di dalam diri mereka.
Selanjutnya, tibalah mereka di jantung hati pulau itu dan berkaca-kacalah mata mereka melihat lautan berombak ganas itu telah ditaklukkan oleh kilauan danau Paniai yang bercahaya bagaikan berlian dan permata, milik suku-suku pulau itu. Isi hati si ALAY terjawab, dan boat milik ALAY pula menjadi berkat buat pulau itu. Di snilah, akhir cerita ini bermula.
PERTANYAAN:
ALAY
1.   Siapa itu ALAY? Dari mana ia sebernarnya berasal? Mengapa Ia bisa terbang dan melihat para korban-korban bencana alam ini di Nabire? Siapa itu kekasihnya yang mengajaknya untuk menaiki boat bertali aluminium, berjiwa emas? Mengapa keluarga-keluarganya bisa bersamaan dengan ALAY dan kekasihnya di atas boat-nya?
KAPAL:
1.   Siapakah kapal ini?
2.   Mengapa ada label-label nama dari setiap suku-suku diatas kapal ini dan mengapa decks lainnya berada di dalam lautan yang bisa di tembusi oleh air laut? Trus, mengapa ada suara manusia yang bisa didengar di dalamnya oleh suku-suku yang berada diatas permukaan laut, diatas kapal itu?
3.   Siapa itu sebenarnya si putri, A,B dan C? Dan, siapa itu setiap tengkorak manusia di tepian kapal itu?
OMBAK
1.   Siapa itu Ombak-ombak ini? Mengapa boats lain di tepi kapal ini telah di telannya?
2.   Mengapa kapal ini hanya berlayar, berlayar, dan berlayar di atas ombak-ombak pembunuh di atas lautan ini tanpa henti?
3.   Mengapa di dalam lautan yang memiliki ombak pemakan jiwa ini, fondasi kapal ini harus bermukim? Apakah kapal penolong jiwa korban bencana alam berteman akrab dengan lautan berombak ganas ini? Ataukah mereka hanya musuh yang berteman dalam berbisnis untuk memakan setiap jiwa yang berada diatas kapal itu?
NABIRE dan PANIAI*
1.   Mengapa Nabire menjadi sebuah urgent alarm kapal ini?
2.   Mengapa kapal ini harus berlayar di atas lautan pasific menuju Jayapura dan berlayar, berlayar, dan berlayar terus tanpa mengantar setiap penumpangnya ketempat asal mereka?
3.   Mengapa Danau Paniai menjadi lawannya lautan si pemakan jiwa manusia ini? Ada apa di balik ini semuanya?
PERTANYAAN para PEMBACA*
Notes:
*Suara Hati Berbicara adalah topik yang isinya sangat susah untuk ditebak. Kadang bersifat fiktif, imaginatif, dan jika di llustrasikan terhadap pulau New Guinea pasti akan muncul banyak pertanyaan-pertanyaan di benak kita.
*NABIRE dan PANIAI adalah contoh yang diambil sesuai pemetaan wilayah Papua Tengah. Nabire bisa dikatakan kota perdagangan dan sangat strategis untuk pelayaran. Paniai adalah tempat di mana air dalam jumlah banyak bermukim di atas dataran tinggi pegunungan tengah. Dengan demikian, nama suku dari daerah ini diambil, seperti suku Mee.
*Pembaca bisa memberikan komentar berbentuk pertanyaan, jika itu ada di benak para bembaca. Episode ini akan berlanjut ketika ada komentar dari para pembaca. Thanks. GOD BLESS YOU ALL. 
Apolo Yogi adalah Mahasiswa Papua, Kuliah di Selandia Baru.
==========================================
Sumber:http://majalahselangkah.com/

0 komentar:

Posting Komentar

KOTAK KOMENTAR

Nama

Email *

Pesan *