Premium WordPress Themes

Jumat, 09 Agustus 2013

Lirik Lagu Aku yang Dulu, Tegar

Aku Yang Dulu Bukanlah Yang Sekarang
Dulu Di Tendang Sekarang Ku Di Sayang
Dulu Dulu Dulu Ku Menderita
Sekarang Aku Bahagia

Cita Citaku Menjadi Orang Kaya
Dulu Ku Susah Sekarang Alhamdulliah
Bersyukurlah Pada Yang Maha Kuasa
Memberi Jalan Untuku Semya

JALAN MAMBESAK

Ide ini berjalan dengan sendirinya
Gagasan ini berjalan dengan sendirinya
Nurani ini berjalan dengan sendirinya
Pemikiran ini berjalan dengan sendirinya

Tak bisa dibendung
Tak bisa ditunda
Tak mampu juga untuk mengatakan Tidak
Dia telah berjalan secara alamiah

PESAN ANAK JALANAN

Dari lampu merah Arteri Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Sepasang anak kecil bernyanyi setengah hati mencoba menghibur tepat jam sepuluh malam.
Bukan suara nyanyian atau melodi nada ukulele yang menjadi perhatianku.
Bukan tatapan penuh melas mengiba uang recehan yang menggetarkan hati.
Tak ada uang recehan yang layak untuk semua usaha di kota yang mati.
Mereka tak layak menerima recehan yang hanya akan menjadikan dirinya sampah.

PESAN DARI ANAK JALANAN

Tubuhku masih mungil, tapi beban ini begitu berat
Tak banyak yang bisa aku kerjakan
Hanya mangkuk kecil yang selalu menemaniku
Di kala terik matahari membakar kulitku
Di kala hujan membasahi tubuhku ini
Semua itu demi recehan dari uluran tangan mereka..
Aku ingin mengadu, tapi kepada siapakah aku mengadu??
Aku tak memiliki orang tua lagi, hidupku sebatang kara..
Aku tak begitu mengenal Tuhan..
Tak ada yang mengajari akan hal itu
Yang aku tahu, kini aku hidup dalam dunia kardus
Dunia yang hampa, tak ada yang mewah dari hidupku ini
Hanya kekerasan yang selalu menjadi tontonanku..
Aku ingin lari, tapi aku sadar takkan ada yang mengejarku
Hanya satpol PP yang terkadang menghancurkan rumahku..
Jika itu terjadi, aku hanya bisa tidur dengan berselimut Koran di depan ruko..
Aku menangis kelaparan, tak ada yang mendengar..
Tubuhku lemah, aku memilih tempat sampah sebagai energiku..
Disana ku dapati banyak makanan basi yang di buang..
Aku tak punya pilihan, aku memakannya..
Aku tak pernah berpikir akan kesehatanku
Jika aku mati mungkin lebih baik
Jika dibandingkan kalau aku hidup terus di jalanan… 
==================================================

Sumber:Remember For Things 

RAKYAT

Oleh : Ahmad Muchlish Amrin
 Budayawan Emha Ainun Nadjib menulis bahwa rakyat adalah pemegang kedaulatan (Kompas, 13/10/2012). Tetapi pertanyaan yang harus diajukan kemudian adalah bagaimana jika rakyat kita sudah ketularan mental partai politik yang instan, serba uang, dan asal memilih pemimpin? Perlu rasanya ada semacam follow up dari pemikiran Cak Nun yang kemudian diimplementasikan di lingkungan masyarakat, baik di ruang pendidikan seperti sekolah, tempat-tempat ibadah, agar lembaga pendidikan tidak hanya menjadi lembaga pencetak ijazah dan (minimal) rakyat sadar akan karakteristik pemimpin masa depan yang bisa memikirkan mereka.
Suatu waktu, saya pernah mengantar teman saya yang ingin berbagi dengan masyarakat di daerah Gunung Kidul. Ketika teman saya datang ke rumah-rumah, membagikan beras, minyak goreng, amplop yang berisi uang, pertanyaan yang muncul dari rakyat, “ini dari partai apa?”, di lain tempat “ini dari calon yang mana?”, di tempat yang lain lagi, “saya harus milih gambar apa?”. Sungguh ironis sekali saya mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Padahal kami tidak punya kepentingan apa-apa, kecuali hanya berbagi dengan mereka. Kami tidak membawa kamera layaknya para “selebritis” partai politik.
Di waktu yang lain, di sebuah kampung di Sumenep, menjelang pemilihan pemimpin atau calon legislator, gambar-gambar yang mencitrakan diri mereka sebagai sosok terbaik untuk dipilih bertaburan di sudut-sudut desa, orang-orang di lingkungan kampung itu berujar, “pokoknya tongket kentos” yakni settong saeket lebbi sekken saratos artinya satu suara lima puluh ribu, lebih kuat seratus ribu. Jika tidak seperti itu, rakyat mengancam untuk tidak datang ke TPS. Demokrasi macam apa ini? Rakyat (yang dianggap Cak Nun sebagai Tuhan) macam apa ini? Apakah rakyat sudah merasa bahwa tidak ada pemimpin yang layak untuk dipilih? Tidak ada calon legislator yang pantas mewakili mereka di parlemen? Atau ini sudah tiba di zaman edan, sehingga rakyat yang dianggap sebagai tuhan juga ikut edan.
Ternyata bukan hanya pemimpin yang harus punya hati nurani, rakyat pun butuh hati nurani. Jika rakyat yang memegang kedaulatan penuh dalam negara demokrasi, memilih wakil-wakilnya di parlemen, memilih presiden dalam pemilihan langsung secara sembrono, asalkan mendapatkan uang secuil yang hanya bisa habis dalam dua hari, maka jangan salahkan jika pemimpinnya bersikap “gelap mata”, karena mereka harus mengembalikan modal dari ongkos pemilihan yang sebenarnya juga “dijarah” oleh rakyat. Mari kita perbaiki mentalitas rakyat dalam memilih pemimpin, tolak bersama-sama money politic, agar rakyat benar-benar menjadi tuhan dan pemegang kedaulatan dalam tata kelola demokrasi kita.

Mentalitas
Mentalitas buruk rakyat yang menggurita belakangan ini telah mendera sistem demokrasi kita. Tidak jarang belakangan ini ada orang-orang yang melakukan demonstrasi karena mendapatkan bayaran, menjadi jamaah pengajian di televisi karena bayaran, menjadi saksi di TPS ketika pemilihan karena bayaran. Bayaran dan bayaran. Peristiwa ini adalah ironi bagi rakyat kita. Guru-guru di negeri ini berdemonstrasi menuntut bayaran. Mereka berbondong-bondong untuk mengejar sertifikasi agar mendapatkan bayaran yang lebih besar. Sementara muridnya? Yang penting mereka mengajar, entah muridnya mau menjadi orang baik atau tidak, “mereka” tidak ngurus, mau tawuran atau tidak, “mereka” tidak ngurus.
Itulah sebabnya, rakyat kita sudah kehilangan nilai-nilai “kerakyatan”nya. Semangat materialisme telah menjadi nurani rakyat. Kepada tokoh-tokoh bangsa yang punya kepedulian, mari kita perbaiki mentalitas rakyat kita, mulai dari ruang lingkup yang terkecil, dalam keluarga kita masing-masing, lingkungan kampung, RT, RW, Desa, dan Kecamatan. Tak lain dan tak bukan, cara mensyukuri kemerdekaan bangsa ini adalah dengan cara mengembalikan mentalitas rakyat kita pada nilai-nilai kerakyatannya yang hakiki. Mari kita tanamkan kembali wawasan kebangsaan, nasionalisme, dan kesadaran masing-masing individu untuk menjadi rakyat yang punya hati nurani.
Bangsa ini memang sudah hancur lebur. Kekayaan rakyat yang tertanam di bumi dan laut kita telah dikuasai oleh asing. Undang-undang kita ternyata tidak berpihak kepada hak hidup rakyat. Para wakil rakyat di parlemen yang telah dipilih oleh rakyat ternyata seenaknya sendiri. Jangan salahkan mereka, karena mereka butuh mengembalikan modal pemilihan. Mari kita instropeksi, bagaimana cara kita memilih wakil kita di legislatif.
Jika di tahun-tahun yang akan datang, mentalitas kita dalam pemilihan selalu mengharapkan tongket kentos, jangan harapkan pemimpin atau legislator yang mewakili rakyat di parlemen akan menyelamatkan rakyat dari kemiskinan dan kesulitan ekonomi. Jangan heran, kalau negeri kita yang punya banyak kekayaan di laut, ternyata ikan masih banyak yang mengimpor. Akhirnya, kita hanya bisa merasa sakit, sebagaimana yang digaungkan penyair Sutardji Calzoum Bachri: segala yang tertusuk padamu/ berdarah padaku.*** 

KRITIS KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK

Kehadiran UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP) memberikan penegasan bahwa keterbukaan informasi publik bukan saja merupakan bagian dari hak asasi manusia secara universal, namun juga merupakan constitutional rights sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 28F perubahan kedua UUD 1945 : "Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia".

Setiap informasi yang berhubungan dengan kepentingan publik, patut diketahui oleh masyarakat, baik itu dari badan publik pemerintah maupun swasta, yang mendapat dan menggunakan dana APBN dan APBD.

CATATAN KRITIS DUNIA PENDIDIKAN NTT

Masih dilansir dalam media di NTT, isu buta aksara sampai dengan tahun 2012 masih tinggi. Ditambah lagi angka putus sekolah dengan kecenderungan perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki menambah semakin tingginya angka buta aksara yang tidak hanya usia non sekolah namun juga usia sekolah. Hal ini tentu sangat jauh dari harapan pemenuhan target MDGs dimana salah satu indikator pencapaian kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan menurut MDGs adalah angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun. Kelompok penduduk usia sekolah ini adalah kelompok penduduk usia produktif, sebagai sumber daya pembangunan yang seharusnya memiliki pendidikan yang memadai dan keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

Artikel anak Jalanan

Aku Hanyalah Anak Jalanan
Seorang bapak dan ibu menemuiku. Mereka membawa buletin  kami yang terbaru. Katanya mereka mendapatkan buletin itu dari temannya. Mereka memuji-muji buletin kami yang mengisahkan kehidupan anak-anak dampingan. Pembicaraan kami berlanjut pada isi buletin. Akhirnya bapak itu mempertanyakan mengapa terjadi banyak pencurian dalam rumah kami. apakah tidak ada cara untuk menghentikan pencurian?
Apakah aku tidak melaporkan saja semua itu pada polisi?
Mengapa aku masih berusaha melindungi mereka?
Mengapa aku masih bertahan dan menampung mereka? Mengapa tidak menutup saja rumah singgah itu dan membuka pelayanan lain?

Pertanyaan-pertanyaan ini sudah sering kudengar. Ini bukan pertanyaan baru lagi. Aku berusaha menjelaskan bahwa pendampingan anak jalanan itu sulit. Sebelum masuk dalam aktifitas ini aku sudah tahu akan resiko yang bakal aku terima selama pendampingan ini. Mengubah seseorang butuh waktu. Apalagi yang menyangkut nilai dan perilaku. Ini tidak mudah. Butuh proses yang lama dan panjang. Memang gambaranku sebelum masuk itu tidak separah setelah aku menjalaninya selama ini. Banyak kesulitan yang muncul, yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

INDAH PADA WAKTUNYA

Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa Suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawa nya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.

Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Tuhan yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya.

KOTAK KOMENTAR

Nama

Email *

Pesan *