Premium WordPress Themes

Sabtu, 20 Juli 2013

Kau Hendak Kukasihi Hingga Ajalku!

Adhen Dimi. Foto: Dok. Pribadi
Oleh: Adhen Isodorus Dimi
Papua adalah salah satu Pulau yang kaya secara alam dan budayanya. Pulau Papua yang terletak di Pasifik ini memiliki lebih dari 250 suku bangsa.  Mereka punya banyak budaya, dan tradisi yang unik untuk masing-masing suku bangsa.
Semua suku di Papua Barat memunyai bahasa sendiri-sendiri. Suku-suku ini menjunjung tinggi bahasanya sebagai alat komunikasi dalam aktivitas sehari-hari mereka. Papua juga memiliki alam yang begitu banyak kekayaan alam. Sampai-sampai orang luar menyebut Papua sebagai 'surga kecil yang jatuh ke bumi.'
Burung-burung berkicau menyambut pagi yang cerah. Tumbuhan melambaikan daunnya di tiup angin. Bukit emas dan tembaga yang memancarkan cahaya diterpa mentari pagi.
Ikan-ikan di lautan bermain ombak dan gelombang pagi. Mentari pagi bersinar cerah mengajak anak negeri untuk menikmati indahnya Pulau Papua. Orang-orang tua duduk di perapian dengan senyuman yang polos dan tua-tua adat di rumah adat hanyutkan hari dalam tawa akan masa depan anak cucunya yang pasti.

Memang, kita mesti bangga, mesti tersenyum bangga dengan yang kita punyai. Siapa di dunia ini yang tidak suka dengan segala yang kita punyai?.
Sayang! Pulau Papua bukan seperti yang dulu lagi. Kata orang, Papua yang bak surga kecil itu, kini tidak lebih dari seonggok daging yang dililit naga kapitalisme raksasa, keserakahan, keegoisan dan penjajahan.
Pulau Papua yang kita banggakan, kita cintai, dimana di atasnya, orang Papua bersorak-ria dan tertawa lepas menghiasi panorama indah, kini dalam proses perubahan ke arah kematian, kemelaratan, kehancuran.
Pulau Papua yang sering dikenal dengan keindahan alamnya, di sana, saat ini, ribuan mayat yang bertaburan. Yang kau dengar hanya rintihan dan tangisan anak-anak Papua bersahut-sahut tiada henti.
Yang ada hanya wajah anak-anak kecil yang menatap masa depan yang suram, sungai-sungai yang bening mulai berubah warna menjadi merah darah anak negeri anak Papua.
Yang kau lihat kini adalah hutan hutan yang dibabat tak terbendung, tanah diobrak-abrik, mencari emas dan tambang lainnya yang dikuras. Itu pemandangan biasa jadinya kini.
Lautan nan biru sekarang tercemar sampah orang-orang dari luar yang masuk ke Pulau Papua. Satu yang pasti: Mereka penjajah sedang giring tanah dan bangsa Papua menuju hilangnya orang Papua. (baca bukunya Bapak Socratez Sofyan Yoman, "Pemusnahan Etnis Melanesia di Papua").
Sudahlah! Yang terpenting sekarang adalah marilah kita bersama-sama membangun negeri tercinta kita ini seperti kita buat untuk membangun diri kita sendiri.
Tidak ada dan tidak boleh lagi ada kata orang pantai, orang gunung, senior, yunior, laki-laki, perempuan, saya Papua kau non-Papua. Yang terpenting adalah siapapun dia dan latar belakang dia marilah kita sama-sama membangun Papua dan katakan: Ko pergi Penjajah, dari tanah kami.
Selanjutnya, saya ingin mengajak kawan-kawan semua baik dari Papua maupun non-Papua yang lahir dan dibesarkan di Papua, yang pernah tinggal di Papua marilah kita satukan tekad yang bulat dan kokoh bersama-sama dengan penuh keyakinan kita berkata seperti syair kebanggaan kita: Hai tanahku Papua, kau tanah kelahiranku, kau hendak kukasihi hingga ajalku!
Penulis adalah mahasiswa Papua, kuliah di Solo.
=================================
Sumber:http://majalahselangkah.com/

0 komentar:

Posting Komentar

KOTAK KOMENTAR

Nama

Email *

Pesan *