Premium WordPress Themes

Selasa, 23 Juli 2013

Kisah Menar

Foto Ilustrasi. Sumber: trek-papua.com
Adalah seorang anak laki-laki. Namanya Menar. Ia tinggi, kekar lagi. Pandangannya tajam. Tampaknya seperti seorang pemimpin.
Seperti halnya teman-teman yang lain, Menar rajin mengikuti ibadah. Semua isi Alkitab telah ia kenali. Pada beberapa momen perlombaan Cerdas Cermat Alkitab (CCA), ia keluar sebagai juara. Kerap kali ia mengajari pelajaran Agama kepada teman-temannya.
Orang tuanya berharap ia akan menjadi seorang pemimpin di desa itu. Sehingga, Menar disekolahkan di sebuah SMP yang ada di kota.
Saat berada di bangku SMA, tampak bakat pemimpinnya. Menar tumbuh dewasa. Seiring dengannya, ilmu pengetahuan dan bakat lain yang dimiliki Menar tumbuh jua. Ia mengharumkan nama keluarganya. Keluarganya bangga dengan keberhasilan-keberhasilan Menar.
Saat SMA, Menar telah mengenal hubungan berpacaran. Pacarnya sangat mendukung aktivitas Menar. Menar lebih produktif lagi. Lebih banyak lagi keberhasilan yang ia buat. Mungkin karena ada dukungan dari seorang gadis.
Setelah SMA, kata orang, Menar seperti sirnah. Perlahan memudar semua yang ia bangun sejak SMP. Sirnah semua tekad yang sudah ia tanamkan dalam hatinya. Entah mengapa. Kini, ada kabar, Menar lebih seiring mengurung diri dalam kamar.
Orang tuanya yang jauh, jauh di pedalaman, mendengar itu. Mereka berupaya agar Menar menjelaskan sebabnya. Tetapi, apa daya, Menar selalu mengalihkan pembicaraan bila ditanya oleh orang tuanya tentang itu melalui sarana komunikasi.
Menar sadar, hal itu ia lakukan bukan karena tidak ada seorang gadis yang menemaninya. Konon katanya, Menar juga telah memutuskan pasangannya dari hubungan romantis yang telah dirajutnya. Bermain dengan teman juga sudah tidak. Bahkan game di Laptop pun ia hapus.
Entah mengapa, Menar tidak lagi bergaul dengan orang yang suka bermain-main. Ia menjauhi kebiasaan dan temannya yang gila game. Tidak ada satu pun permainan yang ia simpan dalam kamar kostnya.
Itulah perubahan Menar. Perubahan yang menghampirinya setelah ia ada di Perguruan Tinggi. Perubahan itulah yang mungin dikehendakinya, sehingga ia bisa mengalami perubahan itu. Tapi aneh, perubahan itu tidak terjadi menyeluruh pada hidupnya.
Sepertinya perubahan itu adalah kehendaknya. Karena ada hal-hal lain yang ia pegang. Komunikasinya dengan teman-teman diskusi di lingkungan masyarakat masih terus subur. Tulisan-tulisannya di media massa terus-menerus ada. Karya-karyanya untuk membangun hidup masyarakat luas terus efektif. Lagi, keberhasilannya terus bertambah.
Hanya satu saja. Satu kegiatan yang tampak jelas dan konkret oleh tetangga-tetangga kostnya, yaitu berdagang pernak-pernik khusus untuk anak-anak remaja. Pernak-perniknya unik, berbeda.
Pernak-pernik yang ia jual semua berbau kebudayaan. Kebudayaan kampungnya. Mulai dari warna pernak-pernik, bentuk, gambaran, kata-katanya, hingga bahasa pada pernak-perniknya selalu menciri khaskan kedaerahannya.
Terkadang, tetangga-tetangga kostnya tanya, kenapa warna pernak-pernik, bentuk, gambaran, kata-katanya, hingga bahasa pada pernak-perniknya selalu menciri khaskan daerahmu? Jawaban Menar apa, ia hanya senyum. Setelah itu, ia pasti berkata, kecintaanku kepada daerahku mestinya dapat menumbuhkan rasa cinta orang lain kepada daerahku.
Banyak pertanyaan yang biasa Menar jumpai. Seperti tadi, tapi ada juga yang biasa mempertanyakan mengapa Menar melakukan hal itu, kan orang tuanya kaya raya. Dengan suara dan nada bahasa yang khas, ia paling-paling berkata, kelak aku ingin membasmi kejahatan melalui tindakan yang pastinya semua ini akan kugunakan saat pembasmian.
Kebiasan Menar itu tidak berakhir hingga ia usai mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi. Dan, ternyata benar, ia banyak menggunakan semua yang ia kumpulkan dulu untuk menjadi pemimpin yang jujur. Jujur sesuai dengan ajaran Cinta Kasih yang diajarkan pada Alkitab.
Oleh karena itulah, ia menjadi pemimpin. Pemimpin yang mengharumkan cinta kasih yang universal. Juga, sesuai dengan kehendak orang tuanya. Mamanya paling bangga dengan berbagai upaya Menar dalam mempin daerahnya. Oleh karenanya, doa ibunya selalu menyertai Menar.

Oleh: Hery Tebay
==========================
 

0 komentar:

Posting Komentar

KOTAK KOMENTAR

Nama

Email *

Pesan *