Premium WordPress Themes

Selasa, 23 Juli 2013

Saya Tidak Mencarimu...

Ilustrasi berburu. Foto: cabiklunik.blogspot.com
Pada zaman dahulu, di sebuah perkampungan, hiduplah seorang pemuda. Pemuda itu berparas tampan. Ia pekerja keras. Setiap hari, lelaki itu mengurusi ladangnya, karena ia tidak memunyai isteri, untuk membantunya bekerja di kebun.
Kehidupannya damai tenteram. Di kebunnya, berbagai macam bahan makanan telah ditanamnya, dan ia tidak kekurangan satu pun tentangnya. Namun, ada yang kurang dari hidup pemuda ini. Ia tidak pandai berburu, seperti pemuda  sekampung lainnya. Oleh karenanya, ia sering dipanggil perempuan, dan sering diejek oleh teman-teman lelakinya sebagai perempuan.
Hal ini biasanya membuat pemuda itu sakit hati.  Suatu hari, lelaki itu tak tahan lagi mendengar omelan dan cacian dari semua pemuda sebayanya di kampung itu. Ia memutuskan untuk berburu. Maka, segala jenis perlengkapan berburu seperti busur dan anak panah, bekal, dan lain sebagainya ia siapkan.
Setelah siap semuanya, maka pada suatu pagi yang cerah, sebelum metahari menyembul ke permukaan mengusir malam, pemuda itu telah keluar rumahnya. Ia keluar untuk berburu. Di tangannya, dibawahnyalah busur dan anak panah. Di pundaknya, dibawanya bekal makanan  di dalam noken. Ia takut kepergiannya untuk berburu diketahui dan malah ditertawai oleh sesama pemuda di kampungnya, dan oleh karena itulah ia keluar sepagi itu untuk berburu.
Hutan lebat di depannya ia telusuri. Namun, karena ia tidak tahu cara cara dan teknik berburu yang digunakan lazimnya, maka ia bingung akan berbuat apa dari dalam hutan. Terpaksa ia seharian itu menyusuri hutan. Beberapa burung ia dapati. Beberapa binatang buruan sering ia jumpai di dalam hutan. Namun, tidak ada satu pun yang dapat ia panah.
Pemuda itu kesal. Pemuda itu  cape. Ia memutuskan untuk berisitrahat sejenak. Sambil beristirahat, mulailah ia belajar melesakkan panah tepat pada sasarannya. Ia membuat bulatan kecil di sebuah batang pohon besar, dan berusaha memanahnya tepat di tengah-tengah titik itu. Namun, tak satupun dari parusan tembakan anak panahnya ayng mengenai sasaran yang diinginkan.
Pemuda itu tidak kecewa dengan hal ini. Malah ia bertambah senang, karena ia dapat semakin memahami teknik menembak menggunakan busur dan anak panah. Akhirnya, hari sudah sore. Pemuda itu memutuskan untuk pulang saja ke rumah. Namun, ia malu juga, karena seharian berburu, tidak satupun binatang buruan yang ia dapat. Ia malu kepada teman-temannya di kampung. Apa kata mereka nanti bila melihat saya pulang berburu dengan tangan kosong? begitu pertanyaan yang selalu terging di benaknya.
Akhirnya, ia memutuskan untuk mengunjungi saja kebunnya yang letaknya di bibir hutan itu. Segera ia sampai ke kebunnya. Hari sudah semakin senja. Matahari sudah semakin terbenam. Lelaki itu tiba di bibir kebun.
Ada sesuatu yang dilihatnya bergerak, seperti benda hitam tampaknya. Di dalam rerumputan itu, di pinggir pohon pisang, diantara  rimbunnya atanaman ubi yang ditanamnya, ia melihat ada sekawanan binatang.
Dengan mengendap-endap karena ingin tahu, lelaki itu mendekatinya. Dari dekat, dilihatnyalah seekor babi hutan dengan tujuh ekor anaknya yang masih kecil sedang mencungkil dan memakan tanaman ubi miliknya di kebun itu. Dengan segera, diambilnyalah panah, dan dibidiknyalah induk babi itu.
Namun sayang. Karena ia belum terlatih untuk menembak, tembakannya jauh dari sasaran. Anak panahnya mengenai telinga induk babi. Sementara karena kaget, babi itu berteriak keras, dan meninggalkan  tempat itu, dengan lari sekencang-kencangnya. Sementara itu, anak-anaknya tercerai berai. Melihat kejadian itu, maka pemuda itu segera berlari mengejar salah satu anak babi.
Karena anak babi itu kecil, maka dengan gampangnya dapat ditangkap  pemuda itu. Dengan rasa senag yang amant sangat, maka segera ia meninggalkan kebunnya dengan menggendong anak babi tersebut. Sesampainya dirumah, ia menyiapkan kandang kecil di samping rumah. Kemudian, anak babi itu dimasukkan ke dalam kandang itu.
Hari berganti, bulan berlalu. Anak babi itu semakin besar. Anak babi peliharaannya itu seperi manusia rasanya. Bila ke  kebun, anak babi itu akan mengikutinya dari belakang. Ketika ia pulang dari kebun, anak babi itu pun akan mengikutinya dari belakang pula. Bila pemuda itu memanggil nama babi, maka dengan cepat akan direspon oleh babi itu dengan teriakan kecilnya.
Suatu pagi yang cerah, pemuda itu pergi ke kebun. Seperti biasa, babinya itu mengikutinya dari belakang. Setelah bekerja seharian, kali itu ia agak kelelahan. Oleh karenanya, ia ingin pulang lebih cepat dari biasanya. Ia memanggil babinya. Ketika babinya itu muncul, lelaki itu berjalan menuju rumah.
Pikirnya, babi itu akan mengikutinya seperti biasa dari belakang. Namun sial bagi pemuda itu. Sesampainya di rumah, ia mendapati babinya itu tidak bersamanya. Pemuda itu kaget, dan menoleh ke samping kiri dan kanan ia berdiri. Segera noken berisi ubi jalar, sayuran dan air yang dibawa ia lepaskan, dan berlari kecil kembali ke arah kebun, mencari babinya itu. Namun, babi itu tiada didapatnya juga. Babi itu telah hilang.
Pemuda itu sedih. Malam itu, ia kembali ke rumah. Ia tidak makan malam itu. Keesokan paginya, ia mempersiapkan segalanya untuk mencari babinya. Ia mencari sambil memanggil-manggil babinya, namun tiada keliahatan. Karena putus asa, di sebuah tempat yang teduh, ia duduk.
Sekilas, di samping kanan jalan, dilihatnya sebuah gundukan rumput tebal. Gundukan rumput itu bergerak gerak. Dengan sigap, lelaki itu segera dengan tidak menimbulkan suara mendekati gundukan rumput yang masih bergrak itu, dan memasukkan tangannya meraba benda yang bergerak itu.
Tangannya menjamah binatang liar, semacam pihaii (kangguru). Ia segera memegang kedua telinga dan kaki Pihaii tersebut, dan mengeluarkannya dari gundukan rumput. Pihaii itu sangat besar, sebesar anak babinya. Sesaat, timbul di pikirannya untuk menikmati saja daging pihaii, yang tentunya tidak kalah nikmatnya di banding daging babi.
Segera ia membawa pulang babi itu. Sesampainya di rumah, ia melihat lagi Pihaii yang bergerak-gerak di dalam kurungan, minta dilepaskan itu. Kemudian, gerakan-gerakan pemberontakan Pihaii untuk melepaskan diri dari dalam kurungan itu, berlahan membuat pemuda itu berpikir, apa jadinya bila ia yang menempati kondisi dan keadaan Pihaii seperti di dalam kurungan.
Lagipula, sebenarnya tujuanku ke hutan, bukan untuk mencari Pihaii ini. Dia kebetulan aku dapat di hutan. Dia bukanlah yang aku cari, begitu ia membatin.
Ia juga sadar, bahwa sesungguhnya tindakannya mencerai beraikan induk babi dengan anak-anaknya itu salah. Ia telah merampas kebahagiaan keluarga babi itu dengan tindakannya itu. Tindakannya mengambil Pihaii dan mengurungnya dalam kurungan, juga babi  itu telah menodai kemerdekaan mereka sebagai binatang yang bebas merdeka untuk hidup  di alam mereka.
Maka Pemuda itu segera membawa kurungan itu ke luar rumah, dan sore  itu juga, sebelum matahari terbenam, ia telah sampai pada gundukan rumput tempat ia memeroleh Pihaii tersebut, dan melepasnya kembali sambil berkata:
Pihaii, bukan kamu yang saya cari. Kembalilah ke alammu. Bila kau bertemu babiku di hutan, sampaikan salamku padanya. Katakan padanya: semoga ia dapat hidup dan berkembangbiak di alamnya dan bahagia. []
Tag : Cerita Rakyat, Papua, Suku Mee, Dogiyai
=================================

Sumber:http://majalahselangkah.com/

0 komentar:

Posting Komentar

KOTAK KOMENTAR

Nama

Email *

Pesan *