Premium WordPress Themes

Minggu, 21 Juli 2013

Aktivis Papua Merdeka yang Penghianati Alias "Yudas

Ilustrasi @ Angin Selatan/Facebook.com
Fenomena politik kemerdekaan Papua di atas negeri ini begitu tak menentu. Susah diterka dan dibaca oleh setiap insan. Ada apa dengan persepsi setiap orang Papua yang begitu berbeda dan tidak sama? Apakah karena begitu banyak suku dan bahasa; ataukah terlalu banyak faham Indonesiaisme dan Papuanisme yang begitu kental mengalir dalam darah masing-masing kelompok manusia Papua, sehingga keduanya saling berseberangan persepsi. 

Hal ini terlihat secara praktis politik di Papua bahwa kalau ada yang condong kepada faham “Garuda,” orang tersebut dicap oleh “Cenderawasih” sebagai penghianat alias “yudas,” perjuangan Papua; dan bila ada yang cenderung berbicara tentang Papua Merdeka, maka “Garuda” menjulukinya separatis, suversi dan pengacau keamanan bangsa. Pemahaman ini tidak dapat disangkal karena ia sudah ada diwaktu lalu, di setiap hati orang Papua.
Tanpa disadari oleh kita bahwa perbedaan persepsi semacam ini merupakan “pupuk” yang menyuburkan perpecahan di kalangan manusia Papua. Jangan salah, bila hal ini sering dipakai Indonesia untuk merancang strategi politik yang sistematis dalam rangka menghancurkan nasionalisme orang Papua menuju pada sebuah tekat kemerdekaan rasnya.
Fakta sejarah membuktikan bahwa perjuangan Papua Merdeka hingga saat ini belum berjalan maksimal karena perbedaan persepsi itu. Ketika 1965, perjuangan Papua merdeka oleh OPM, ada saja ditemui sejumlah manusia Papua yang ikut terlibat menjadi antek-antek Indonesia. Berbagai fasilitas, uang dan wanita menjadi hadia mempesona bagi mereka. Kesenangan para “yudas” Papua ini begitu asik di atas penderitaan saudaranya sendiri.

Beberapa aktivis OPM harus ditangkap dan dimasukan dalam sel tahanan, bahkan ada pula yang harus mati, itu semua terjadi karena ulah para “Yudas,” Papua itu. Mengapa bisa terjadi? Seorang aktivis OPM yang pernah juga merasakan pahitnya penderitaan selama 14 tahun di LP kalisosok Surabaya menutur “Bagaimana kita bisa menuju pada titik kemerdekaan dalam kebersamaan, bila saudara-saudara kita menjadi penghianat terhadap perjuangan hati nuraninya sendiri.

Penghianat itu bukan saja ada di antara kelompok perjuangan kita, tetapi mereka yang dulu sekian lama berjuang untuk kemerdekaan, akhirnya harus kembali menghianati nilai perjuangan yang selama itu ditekuninya. Mereka itu ibarat seekor “anjing” hitam yang kembali menikmati muntah makanan yang dikeluarkan dari lambungnya!” Mendengar pernyataan ini saya begitu terheran karena si aktivis tersebut memang benar-benar mengungkapkan sakit hatinya terhadap beberapa rekan perjuangannya yang telah kembali ke Indonesia, dan mengakui kedaulatan NKRI atas Papua. 

Lalu, teringatlah saya akan beberapa aktivis Papua yang telah kembali mengakui eksistensi Indonesia di atas tanah Papua, seperti Nicolas Jouwe, Nick Messet, Frans Albert Joku, Alex Mebri dan masih ada yang lain lagi. Mudah-mudahan saya tidak berat sebelah dalam menilai keputusan mereka. Tetapi, mungkin saja menurut pendapat saya mereka telah kehilangan pengharapan akan datangnya kebebasan itu, saat berjuang di negeri-negeri diaspora tidak membuahkan hasil yang diharapkan.

“Perbedaan itu boleh-boleh saja, tetapi ingat, komitmen itu jangan sekali-kali sampe berubah, sebab hanya dialah yang menjadi motivator dalam perjuangan kita menuju kebebasan Ras Papua.” 
Apa bilah tulisan diatas ini, kurang mengenangkan harap maklumi dan Tulisan diatas ini juga sebagai bahan diskuisi bagi Orang Papua. (Mecky Y)
============================================

Sumber:http://www.umaginews.com

0 komentar:

Posting Komentar

KOTAK KOMENTAR

Nama

Email *

Pesan *